Pemerintah Berpesta, Warga Patra Tani Rogoh Kocek Demi Jalan Anak Sekolah!

Uncategorized228 Dilihat
banner 468x60

Ogan Ilir – kabarhukumsriwijaya.com | Di tengah euforia perayaan hari jadi Kabupaten Ogan Ilir, sebuah ironi justru datang dari perbatasan desa. Warga Desa Patra Tani, Kecamatan Muara Belida, terpaksa patungan uang untuk memperbaiki jalan penghubung menuju Desa Tanjung Pulih. Jalan yang disebut sebagai akses vital menuju jalan provinsi itu telah bertahun-tahun rusak tanpa sentuhan perbaikan.

banner 336x280

 

Pertanyaannya sederhana namun menohok: Kemana Pemerintah?

 

Jalan yang diperbaiki warga itu bahkan hanya cukup dilewati sepeda motor. Anak-anak sekolah setiap hari harus berjibaku dengan lumpur dan kubangan. Tak sedikit orang tua yang terpaksa menggendong anaknya demi bisa sampai ke sekolah.

 

Jum’at, 20/02/2026

Seorang warga bernama Nita mengunggah kondisi tersebut ke Facebook saat warga bergotong royong memperbaiki jalan.

 

“Ya Allah senang aku, mau ke sekolah Senin nanti sudah miker. Aku kira-kira mampu tidak menggendong anak, posisi lagi puasa, sedangkan tidak puasa saja tersengal menggendongnya. Nah jika sudah dibuat melengkung dari pinggir itu masa nanti dilewati mobil besar bermuatan berat? Nanti tahan ngangkang sebelah ban mobilnya maksa lewat jalan enak. Jika rusak tidak ada yang tanggung jawab, jika buka suara jalan umum,” tulis Nita dengan emot marah.

 

Unggahan itu langsung menyentuh hati warganet. Mereka menilai kondisi tersebut sebagai potret nyata ketimpangan pembangunan di daerah.

Ironisnya, jalan tersebut disebut sebagai akses penghubung antar desa yang seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Namun hingga kini, warga justru menjadi “kontraktor dadakan” demi keselamatan anak-anak mereka.

 

Gotong royong yang semestinya menjadi simbol kebersamaan kini berubah menjadi simbol keputusasaan. Warga rela merogoh kocek pribadi agar anak-anak tidak lagi terjebak lumpur saat berangkat sekolah.

 

Jika mobil bermuatan berat nekat melintas, jalan yang baru diperbaiki secara swadaya itu dipastikan kembali rusak. Lalu siapa yang bertanggung jawab? Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir. Di saat panggung perayaan dan seremoni berlangsung, di sudut desa warganya berjuang sendiri memperbaiki infrastruktur dasar.

 

Apakah suara warga Patra Tani akan terus diabaikan?

 

Ataukah ini menjadi momentum evaluasi nyata bagi pemerintah agar pembangunan tidak hanya terasa di pusat kota, tetapi juga hingga ke pelosok desa?

 

Warga kini hanya berharap satu hal sederhana: jalan layak demi masa depan anak-anak mereka.

About The Author

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *